Pages

Rabu, 26 November 2014

Asuhan Keperawatan Diare

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.   Definisi
Diarrhea atau diare adalah pengeluaran tinja berair berkali-kali yang tidak normal. (Kamus Kedokteran Dorland, 2002 : 311-312).
Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 5 kali pada anak, konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir atau darah. (Ngastiyah, 2005: 224).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa diare adalah keadaan buang air besar berair berkali-kali dengan frekuensi lebih dari 3 kali pada bayi dan lebih dari 5 kali pada anak.



1.2.   Patofisiologi
Diare disebabkan oleh virus, bakteri dan protozoa. Spesies tertentu bakteri menghasilkan toksin yang mengganggu absorpsi usus dan dapat menimbulkan sekresi berlebihan air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya timbul diare, karena terjadi peningkatan isi rongga usus. Akibat terdapatnya zat-zat makanan yang tidak dapat diserap menyebabkan peningkatan tekanan osmotik di dalam usus meninggi sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
Manifestasi klinik yang muncul pada pasien diare terutama anak-anak adalah pasien cengeng atau sering menangis, gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair, mungkin disertai lendir dan darah, warna tinja makin lama makin kehijauan karena bercampur dengan empedu. (Mansyoer, dkk)
Peningkatan frekuensi feses dan kandungan cairan dalam feses, kram abdomen, asistensi, anoreksia, haus, feses yang banyak mengandung air menandakan penyakit usus halus, feses lunak menandakan kelainan kolon. (Buku Keperawatan Medikal Bedah Brunner and Suddart 2002: hal 121)






1.3.   Pemeriksaan Diagnostik
Jika penyebabnya tidak diketahui :
a.     Pemeriksaan feses ; misal : terdapat organisme infeksius dan parasit,
b.    Proktosigmoidoskopi
c.     Enema Barium
(Buku Keperawatan Medikal Bedah Brunner and Suddart 2002: hal 122)
1.4.   Standar Penanganan
Penatalaksanaan medik primer diarahkan pada pengontrolan dan menyembuhkan penyakit yang mendasari.
1.     Untuk diare ringan, tingkatkan masukan cairan per oral, mungkin diresepkan glukosa oral dan larutan elektrolit
2.     Untuk diare sedang, obat-obatan nun-spesifik, difenoksilat dan loperamid untuk menurunkan motilitas dari sumber noninfeksius.
3.     Diresepkan antimikroba jika telah teridentifikasi preparat infeksius atau diare memburuk.
4.     Terapi intravena untuk hidrasi cepat, terutama untuk pasien yang sangat muda atau lansia.


















BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

2.1.  Pengkajian
a.     Biodata
1)   Identitas Klien
2)   Identitas Penanggung Jawab
b.    Riwayat Kesehatan (Keluhan Utama)
c.     Riwayat Kesehatan sekarang
d.    Riwayat kesehatan dahulu
e.     Riwayat kesehatan keluarga
f.     Genogram
g.    Riwayat kesehatan lingkungan
h.     Fokus pengkajian
a)     Pola Kebiasaan Pasien
·         Makan dan minum
·         Eliminasi
BAB
Sebelum sakit pasien mengatakan biasa BAB 1x sehari dengan konsistensi lembek, warna kuning, dan bau khas feses. Sedangkan saat sakit pasien mengatakan sudah lebih dari 5 kali dengan konsistensi cair.
BAK
Sebelum sakit pasien mengatakan biasa BAK 4-5 x sehari ( + 800-1000 cc/hari) warna kuning bening, bau pesing khas urine. Sedangkan pada saat sakit pasien mengatakan BAK sering.
·         Gerak dan aktivitas
·         Istirahat dan tidur
·         Kebersihan diri
·         Pengaturan suhu tubuh
Pasien mengatakan merasa panas,lemas dan berkeringat.
b)    Data Psikologis
a.       Rasa nyaman
b.      Rasa aman
c.       Data social
c)     Pemeriksaan Fisik
a.     Inspeksi
b.    Auskultasi
Bising usus lebih cepat atau lebih dari normal, hiperperistaltik
c.      Palpasi
Apakah ada nyeri tekan pada abdomen
d.    Perkusi

















2.2.  Diagnosa Keperawatan

Diagnosa Keperawatan
Kekurangan Volume Cairan
Definisi
Penurunan cairan intravaskular, interstisial, dan atau intraseluler. Ini mengacu pada dehidrasi, kehilangan cairan saja tanpa perubahan pada natrium.
Batasan Karakteristik
a.     Perubahan pada status mental
b.     Penurunan turgor kulit
c.      Kulit kering
d.     Penurunan pada tekanan nadi
e.     Penurunan turgor lidah
f.       Membran mukosa kering
g.     Peningkatan suhu tubuh haus
h.     kelemahan
Faktor yang berhubungan
a.     kehilangan cairan aktif
b.     kegagalan mekanisme regulasi

Diagnosa Keperawatan
Ansietas (kecemasan)
Definisi
Perasaan gelisah yang tak jelas dari ketidaknyamanan atau ketakutan yang disertai respon otonom (sumber tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan keprihatinan disebabkan dari antisipasi terhadap bahaya. Sinyal ini merupakan peringatan   adanya ancaman yang akan datang dan memungkinkan individu untuk mengambil langkah untuk menyetujui terhadap tindakan
Batasan Karakteristik
·         Penurunan tekanan darah (parasimpatis)
·         Mual (parasimpatis)
·         Sering kencing (parasimpatis)
·         Pusing (parasimpatis)
·         Kesulitan bernafas (simpatis)
·         Meningkatnya tekanan darah (simpatis)
Faktor yang Berhubungan
·          Perpapar racun
·          Konflik yang tidak disadari tentang nilai-nilai utama/tujuan hidup
·         Keturunan/herediter
·         Kebutuhan tidak terpenuhi
·         Transmisi interpersonal
·         Krisis situasional/maturasional
·         Ancaman kematian
·         Ancaman terhadap konsep diri
·         Stress
·         Penyalah gunaan obat
·         Perubahan dalam: status peran, status kesehatan, pola interaksi, fungsi peran, lingkungan, status ekonomi


2.3. Masalah Kolaborasi
1.     Dehidrasi
2.     Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
3.     Disritmia jantung

Perencanaan
Outcome
Rencana tindakan
§  Keseimbangan asam basa
§  Keseimbangan cairan
§  Hidrasi
§  Status nutrisi : intake makanan dan minuman
Kriteria :
§   Mempertahankan haluaran
§   Mempertahankan suhu tubuh badan normal
§  Mempertahankan turgor kulit yang elastis, berat badan stabil
§  Manajemen elektrolit
§  Manajemen cairan
§  Manajemen hipovolemi
§  Terapi Intravena (IV)
Intervensi :
§  Pengkajian terus menerus :
·         monitor abnormalitas elektrolit
·         monitor berat badan harian
·         monitor total intake dan output cairan







Perencanaan
Outcome
Rencana Tindakan
·         Anxiety Control (kontrol kecemasan)
Definisi: tindakan personal untuk menghilangkan atau mengurangi perasaan kuatir dan tertekan/tegang terhadap sumber yang tidak jelas.
·         Aggression Control (kontrol agresi)
Definisi: penahanan diri terhadap perilaku merusak atau dorongan untuk berperang dengan orang lain.
·         Coping (koping)
Definisi: mengatur stresor
·         Impulse Control (kontrol impuls)
Definisi: pengendalian diri terhadap perilaku kompulsif atau impulsif.
       Kriteria :
- Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas
- Mengidentifikasi, mengungkapkan, dan menunjukkan teknik untuk mengontrol cemas
- Vital sign (TD, nadi, respirasi) dalam batas normal
- Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan tingkat aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan.
- Menunjukkan peningkatan konsenrtasi dan akurasi dalam berpikir
-       Menunjukkan peningkatan fokus eksternal
·         Anxiety reduction (pengurangan cemas)
Definisi: meminimalkan rasa takut, cemas, merasa dalam bahaya atau ketidaknyamanan terhadap sumber yang tidak diketahui.
·         Coping enhancement (penguatan koping)
Definisi: membantu pasien untuk beradaptasi dalam menerima stresor, perubahan, atau ancaman yang mempengaruhi pemenuhan kebutuhan hidup atau peran.

·         Kaji tingkat kecemasan klien dan reaksi fisik terhadap cemas, seperti takikardi, takipnea, ekspresi non verbal kecemasan. Validasi hasil observasi dengan menanyakan pada klien.
·         Gunakan kehadiran, sentuhan (dengan ijin), pengungkapan untuk mengingatkan klien bahwa mereka tidak sendiri dan untuk mendorong pengekspresian atau klarifikasi kebutuhan, perhatian, ketidak tahuan, dan pertanyaan.
·         Terima koping defens pasien, jangan menentang, mendebat atau menyangkal.
·           Ijinkan dan dukung reaksi personal klien atau ekspresi nyeri, ketidaknyamanan, atau ancaman terhadap kesejahteraan.
·         Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan yang mengindikasikan intervensi.



DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddarth (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Carpenito, L. J. (2000). Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinis. Jakarta: EGC.
Dorland, W. N. (2002). Kamus Kedokteran. Jakarta: EGC.
Ngastiyah. (2005). Perawatan Anak Sakit.
Soemasto, d. (1982). Kapita Selekta Kedokteran Edisi kedua. Jakarta: FKUI.
Speer, K. M. (2008). Rencana Asuhan Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.
NANDA International (2013)

Buku Saku Diagnosis Keperawatan NIC dan kriteria hasil NOC, edisi 7