BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. Definisi
Diarrhea atau diare adalah pengeluaran tinja berair berkali-kali yang tidak
normal. (Kamus Kedokteran Dorland, 2002 : 311-312).
Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi
dan lebih dari 5 kali pada anak, konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau
dapat pula bercampur lendir atau darah. (Ngastiyah, 2005: 224).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa diare adalah keadaan buang
air besar berair berkali-kali dengan frekuensi lebih dari 3 kali pada bayi dan
lebih dari 5 kali pada anak.
1.2. Patofisiologi
Diare disebabkan oleh virus, bakteri
dan protozoa. Spesies tertentu bakteri menghasilkan toksin yang mengganggu
absorpsi usus dan dapat menimbulkan sekresi berlebihan air dan elektrolit ke
dalam rongga usus dan selanjutnya timbul diare, karena terjadi peningkatan isi
rongga usus. Akibat terdapatnya zat-zat makanan yang tidak dapat diserap
menyebabkan peningkatan tekanan osmotik di dalam usus meninggi sehingga terjadi
pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan
akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
Manifestasi klinik yang muncul pada
pasien diare terutama anak-anak adalah pasien cengeng atau sering menangis,
gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian
timbul diare. Tinja cair, mungkin disertai lendir dan darah, warna tinja makin
lama makin kehijauan karena bercampur dengan empedu. (Mansyoer, dkk)
Peningkatan frekuensi feses dan
kandungan cairan dalam feses, kram abdomen, asistensi, anoreksia, haus, feses
yang banyak mengandung air menandakan penyakit usus halus, feses lunak
menandakan kelainan kolon. (Buku Keperawatan Medikal Bedah Brunner and Suddart
2002: hal 121)
1.3. Pemeriksaan Diagnostik
Jika penyebabnya tidak diketahui :
a. Pemeriksaan feses ; misal : terdapat organisme infeksius
dan parasit,
b. Proktosigmoidoskopi
c. Enema Barium
(Buku Keperawatan Medikal Bedah Brunner and Suddart 2002:
hal 122)
1.4. Standar Penanganan
Penatalaksanaan medik primer
diarahkan pada pengontrolan dan menyembuhkan penyakit yang mendasari.
1. Untuk diare ringan, tingkatkan masukan cairan per oral,
mungkin diresepkan glukosa oral dan larutan elektrolit
2. Untuk diare sedang, obat-obatan nun-spesifik,
difenoksilat dan loperamid untuk menurunkan motilitas dari sumber noninfeksius.
3. Diresepkan antimikroba jika telah teridentifikasi
preparat infeksius atau diare memburuk.
4. Terapi intravena untuk hidrasi cepat, terutama untuk
pasien yang sangat muda atau lansia.
BAB
II
ASUHAN
KEPERAWATAN
2.1. Pengkajian
a. Biodata
1) Identitas Klien
2) Identitas Penanggung Jawab
b. Riwayat Kesehatan (Keluhan Utama)
c. Riwayat Kesehatan sekarang
d. Riwayat kesehatan dahulu
e. Riwayat kesehatan keluarga
f. Genogram
g. Riwayat kesehatan lingkungan
h. Fokus pengkajian
a) Pola Kebiasaan Pasien
·
Makan dan minum
·
Eliminasi
BAB
Sebelum sakit pasien mengatakan biasa BAB 1x sehari
dengan konsistensi lembek, warna kuning, dan bau khas feses. Sedangkan saat sakit
pasien mengatakan sudah lebih dari 5 kali dengan konsistensi cair.
BAK
Sebelum sakit pasien mengatakan biasa BAK 4-5 x sehari (
+ 800-1000 cc/hari) warna kuning bening, bau pesing khas urine. Sedangkan pada
saat sakit pasien mengatakan BAK sering.
·
Gerak dan aktivitas
·
Istirahat dan tidur
·
Kebersihan diri
·
Pengaturan suhu tubuh
Pasien mengatakan merasa panas,lemas dan berkeringat.
b) Data Psikologis
a. Rasa nyaman
b. Rasa aman
c. Data social
c) Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
b. Auskultasi
Bising
usus lebih cepat atau lebih dari normal, hiperperistaltik
c. Palpasi
Apakah
ada nyeri tekan pada abdomen
d. Perkusi
2.2. Diagnosa
Keperawatan
|
Diagnosa
Keperawatan
|
Kekurangan
Volume Cairan
|
|
Definisi
|
Penurunan cairan
intravaskular, interstisial, dan atau intraseluler. Ini mengacu pada
dehidrasi, kehilangan cairan saja tanpa perubahan pada natrium.
|
|
Batasan
Karakteristik
|
a.
Perubahan pada status mental
b.
Penurunan turgor kulit
c.
Kulit kering
d.
Penurunan pada tekanan nadi
e.
Penurunan turgor lidah
f.
Membran mukosa kering
g.
Peningkatan suhu tubuh haus
h.
kelemahan
|
|
Faktor yang
berhubungan
|
a.
kehilangan cairan aktif
b.
kegagalan mekanisme regulasi
|
|
Diagnosa
Keperawatan
|
Ansietas (kecemasan)
|
|
Definisi
|
Perasaan gelisah
yang tak jelas dari ketidaknyamanan atau ketakutan yang disertai respon
otonom (sumber tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan
keprihatinan disebabkan dari antisipasi terhadap bahaya. Sinyal ini merupakan
peringatan adanya ancaman yang akan
datang dan memungkinkan individu untuk mengambil langkah untuk menyetujui
terhadap tindakan
|
|
Batasan
Karakteristik
|
·
Penurunan tekanan darah (parasimpatis)
·
Mual (parasimpatis)
·
Sering kencing (parasimpatis)
·
Pusing (parasimpatis)
·
Kesulitan bernafas (simpatis)
·
Meningkatnya tekanan darah (simpatis)
|
|
Faktor yang
Berhubungan
|
·
Perpapar racun
·
Konflik yang
tidak disadari tentang nilai-nilai utama/tujuan hidup
·
Keturunan/herediter
·
Kebutuhan tidak terpenuhi
·
Transmisi interpersonal
·
Krisis situasional/maturasional
·
Ancaman kematian
·
Ancaman terhadap konsep diri
·
Stress
·
Penyalah gunaan obat
·
Perubahan dalam: status peran, status kesehatan, pola
interaksi, fungsi peran, lingkungan, status ekonomi
|
2.3. Masalah Kolaborasi
1. Dehidrasi
2. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
3. Disritmia jantung
|
Perencanaan
|
|
|
Outcome
|
Rencana tindakan
|
|
§ Keseimbangan
asam basa
§ Keseimbangan
cairan
§ Hidrasi
§ Status nutrisi :
intake makanan dan minuman
Kriteria :
§
Mempertahankan haluaran
§
Mempertahankan suhu tubuh badan normal
§ Mempertahankan
turgor kulit yang elastis, berat badan stabil
|
§ Manajemen
elektrolit
§ Manajemen cairan
§ Manajemen
hipovolemi
§ Terapi Intravena
(IV)
Intervensi :
§ Pengkajian terus
menerus :
·
monitor abnormalitas elektrolit
·
monitor berat badan harian
·
monitor total intake dan output cairan
|
|
Perencanaan
|
|
|
Outcome
|
Rencana Tindakan
|
|
·
Anxiety Control (kontrol kecemasan)
Definisi: tindakan personal untuk
menghilangkan atau mengurangi perasaan kuatir dan tertekan/tegang terhadap
sumber yang tidak jelas.
·
Aggression Control (kontrol agresi)
Definisi: penahanan diri terhadap
perilaku merusak atau dorongan untuk berperang dengan orang lain.
·
Coping (koping)
Definisi: mengatur stresor
·
Impulse Control (kontrol impuls)
Definisi:
pengendalian diri terhadap perilaku kompulsif atau impulsif.
Kriteria :
- Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala
cemas
- Mengidentifikasi, mengungkapkan, dan menunjukkan
teknik untuk mengontrol cemas
- Vital sign (TD, nadi, respirasi) dalam batas normal
- Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan
tingkat aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan.
- Menunjukkan peningkatan konsenrtasi dan akurasi dalam
berpikir
-
Menunjukkan peningkatan fokus eksternal
|
·
Anxiety reduction (pengurangan cemas)
Definisi: meminimalkan rasa takut, cemas, merasa dalam
bahaya atau ketidaknyamanan terhadap sumber yang tidak diketahui.
·
Coping enhancement (penguatan koping)
Definisi:
membantu pasien untuk beradaptasi dalam menerima stresor, perubahan, atau
ancaman yang mempengaruhi pemenuhan kebutuhan hidup atau peran.
·
Kaji tingkat kecemasan klien dan reaksi fisik terhadap cemas,
seperti takikardi, takipnea, ekspresi non verbal kecemasan. Validasi hasil
observasi dengan menanyakan pada klien.
·
Gunakan kehadiran, sentuhan (dengan ijin), pengungkapan
untuk mengingatkan klien bahwa mereka tidak sendiri dan untuk mendorong
pengekspresian atau klarifikasi kebutuhan, perhatian, ketidak tahuan, dan
pertanyaan.
·
Terima koping defens pasien, jangan menentang, mendebat
atau menyangkal.
·
Ijinkan dan
dukung reaksi personal klien atau ekspresi nyeri, ketidaknyamanan, atau
ancaman terhadap kesejahteraan.
·
Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan yang
mengindikasikan intervensi.
|
DAFTAR
PUSTAKA
Brunner and Suddarth
(2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Carpenito,
L. J. (2000). Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinis.
Jakarta: EGC.
Dorland,
W. N. (2002). Kamus Kedokteran. Jakarta: EGC.
Ngastiyah.
(2005). Perawatan Anak Sakit.
Soemasto,
d. (1982). Kapita Selekta Kedokteran Edisi kedua. Jakarta: FKUI.
Speer,
K. M. (2008). Rencana Asuhan Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.
NANDA International (2013)
Buku Saku Diagnosis
Keperawatan NIC dan kriteria hasil NOC, edisi 7
0 komentar:
Posting Komentar